dutapers.com, BUNGO – Kronologi berdirinya kerajaan Tanah Sepenggal ini berawal dari perjalanan tokoh bergelar Pangeran Mangkubumi dan Mangkubuwono atau Pakubuwono nama lainnya Orang Tuo Tengka.
Diawali kisah dari tanah Jawa sekira tahun ±1720–1740 lalu. Kedua tokoh berasal dari keluarga bangsawan Keraton Mataram/Solo atau lingkaran pejabat tinggi. Mereka menerima gelar Mangkubumi dan Mangkubuwono sebagai tanda status, baik karena hubungan darah maupun jabatan kehormatan.
Pada waktu itu, adanya konflik internal yakni perang suksesi di keraton dan intervensi dari kekuasaan VOC.
Maka mereka memutuskan berangkat ke Sumatra pada tahun (±1740–1750), mendarat pertama di Palembang atau Jambi.
Di Jambi, pangeran Mangkubumi dan Mangkubuwono menetap di Tanah Sepenggal (±1750–1760). Mereka sampai melalui Sungai Batanghari, hingga masuk ke Tanah Sepenggal.
Pada masa itu, Pakubuwono memiliki janji kepada Mangkubumi selaku pamamnya. Baginya janji adalah hutang kehormatan yang wajib ditepati, meski harus ditempuh dengan perjalanan panjang dan penuh adat.
Untuk menunaikan janji yang telah disanggupinya, Pakubuwono berangkat menuju Balai Panjang, ditemani dua orang pengiring setia. Tujuan mereka adalah menemui Pangeran Mangkubumi, penguasa adat yang disegani, yang bermukim di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Tanah Periuk.
Setibanya di balai, Pakubuwono akhirnya bertemu langsung dengan Pangeran Mangkubumi, disaksikan oleh Wan Oemar, Ketua Sidang adat, serta Datuk Rio Anoom, abdi masyarakat Tanah Sepenggal yang bijaksana. Di hadapan para tetua adat itu, Pakubuwono menunaikan kewajibannya—segala hutang dan denda adat dibayar lunas tanpa kurang sedikit pun.
Setelah kewajiban selesai, Pakubuwono menyampaikan niatnya: ia memohon perkenan untuk meresmikan sebuah negeri beserta rumah-rumah adat yang telah dibangunnya di tanah pilihan bernama Lebak Landai.
Namun Pangeran Mangkubumi menggeleng pelan. Dengan suara tenang namun tegas, ia berkata bahwa peresmian negeri dan rumah saja belumlah cukup wajar menurut adat. Ada satu ikatan suci yang harus disempurnakan. Maksud Pangeran Mangkubumi adalah agar Pakubuwono dinikahkan dengan Sri Ratu Daya Rani, sebagaimana hasil perundingan antara beliau dan ketua kesenian, yang tak lain adalah paman kandung Pakubuwono sendiri.
Menghormati adat dan nasihat kedua pamannya, Pakubuwono pun menerima kehendak tersebut dengan lapang dada.
Maka disepakatilah sebuah kenduri besar yang berlangsung selama tiga hari tiga malam, terhitung sejak 11 hingga 13 Maret 1754. Undangan pun disebar ke berbagai penjuru negeri, menghadirkan para pemuka masyarakat dari Bilangan V/VII, Jujuhan, VII Koto, Batin II, Batin III Ilir, Batin III, Batin VII, Teluk Rendah, Kampung Gedang Tanjung Pasir, hingga Tahtul Yaman. Kesenian Melayu dipertunjukkan, dan hadir pula Anak Negeri Nan VIII dalam Tanah Sepenggal, menjadikan kenduri itu semarak dan bersejarah.
Pada 11 Maret 1754, terlaksanalah peristiwa agung yang dikenang turun-temurun sebagai Peresmian Tiga Serangkai, yakni:
Pertama, peresmian negeri yang diberi nama Lebak Landai, yang kelak berubah sebutan menjadi Lubuk Landai.
Kedua, peresmian pemakaian sepuluh rumah adat Balembago serta satu rumah Gedang, sebagai pusat kehidupan dan musyawarah adat.
Ketiga, pernikahan Pakubuwono III dengan Sri Ratu Daya Rani, yang mengikat hubungan kekeluargaan dan adat secara sah dan mulia.
Selama menetap di Lubuk Landai, Pakubuwono dan Sri Ratu Daya Rani dikaruniai lima orang anak. Seorang putra dan empat orang putri, yakni Kali Urai, Meh Mato, Meh Baik, Meh Urai, serta Rajo Nita, yang wafat dalam usia belia, enam tahun, namun tetap dikenang dengan penuh kasih.
Hingga akhir hayatnya, Pakubuwono tetap tinggal di Lubuk Landai. Di sanalah beliau menghembuskan napas terakhir dan dimakamkan di Kampung Betung, Dusun Lubuk Landai. Makamnya menjadi saksi bisu perjalanan seorang pemimpin yang setia pada janji, menjunjung adat, dan mewariskan negeri yang kelak tumbuh menjadi bagian penting dari sejarah Tanah Sepenggal.
Sejak saat itu, nama Lubuk Landai tak sekadar menjadi sebutan tempat, melainkan simbol persatuan, adat, dan kehormatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sejak itu juga nama Orang Tuo Tengka muncul dalam tradisi lisan masyarakat Melayu di wilayah Tanah Sepenggal (Muara Bungo, Jambi).
Orang Tuo atau tokoh tua merupakan pendiri kampung atau pemimpin adat yang dihormati. Sedangkan, Tengka berasal dari kata panggilan atau gelar lokal, kemungkinan turunan bahasa Melayu atau dialek daerah, yang artinya penjaga/penyangga/pemegang aturan.
Dalam konteks sejarah lokal, “Orang Tuo Tengka” sering dihubungkan dengan figur yang memimpin perpindahan, pembukaan wilayah baru, atau perjanjian adat. (***)
Sumber: google.com, tiktok @deddy_kids












