dutapers.com, BUNGO – Rencana pembangunan sebuah Vihara Vegetarian di wilayah RT 04 RW 02, Kelurahan Sungai Pinang, Kabupaten Bungo, kini tengah memicu gelombang penolakan dari masyarakat setempat.
Situasi di lapangan memanas seiring dengan kekhawatiran warga akan dampak sosial dan pergeseran nilai budaya di lingkungan mereka.
Demi memuluskan izin pembangunan, pihak penyelenggara dari komunitas Tionghoa dikabarkan menempuh jalur diplomasi dengan melibatkan tokoh-tokoh penting di Kabupaten Bungo.
Tokoh-tokoh penting itu disebut-sebut diminta untuk menjadi jembatan lobi kepada warga.
Langkah ini diduga diambil untuk memberikan pengaruh agar warga bersedia melunakkan sikap mereka terhadap proyek tersebut.
Penolakan warga RT 04 RW 02 bukanlah tanpa dasar yang kuat. Perwakilan warga menyatakan bahwa keberatan mereka berakar pada beberapa poin krusial.
Lingkungan setempat merupakan kawasan dengan mayoritas penduduk Muslim yang taat.
Warga khawatir keberadaan tempat ibadah non-Muslim di tengah pemukiman padat Muslim dapat memicu ketidakharmonisan atau gesekan di masa depan.
Masyarakat merasa pembangunan tersebut tidak selaras dengan karakteristik sosial budaya yang selama ini terjaga.
”Kami ingin menjaga ketenangan yang sudah ada. Bukan bermaksud intoleran, namun penempatan tempat ibadah haruslah mempertimbangkan komposisi warga setempat agar tidak menimbulkan konflik di kemudian hari,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya. (tim)








